Jumat, 30 Oktober 2020

Shalat Qobliyah Shubuh Jangan Sampai Ditinggalkan

 



Shalat sunnah tidaklah sekedar shalat. Shalat sunnah memiliki keutamaan-keutamaan. Diantara shalat sunnah tersebut adalah shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah fajr memiliki keutamaan sangat luar biasa. Dalam hadits ‘Aisyah disampaikan,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua raka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.[9]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukan shalat ini, sampai-sampai ketika safar pun beliau terus merutinkannya.

‘Aisyah mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain shalat sunnah fajar.” [1]

Ibnul Qayyim mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqoshor shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.” [2]



Referensi:
[1] HR. Bukhari no. 1169
[2] Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/456, Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, 1407 H. (Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, ‘Abdul Qadir Al Arnauth)

Jumat, 16 Oktober 2020

Ayah, lelaki terhebat


Senja itu tak seperti biasanya. Violet tipis membentang di ufuk barat. Beradu kekuatan dengan awan kelabu di sisinya. Burung-burung senja berterbangan di langit menambah kuat perasaan aneh yang bermain di benakku. Semilir sang bayu memainkan gerak dedaunan di sekitar rumah setengah permanen. Rumah dengan dinding bilik yang sudah beberapa bulan tak tersentuh sapuan cat berbahan kapur sang pemilik, kini mulai tampak lusuh. Maklum, cat kapur tak setangguh cat lainnya, mudah pudar warnanya. Biasanya setiap enam bulan sekali, sang pemilik rumah yang tak lain adalah ayahku, selalu menyegarkan tampilan rumah dengan mengecatnya. Namun , sejak ayah sakit-sakitan, cat rumah mulai tidak terawat. Mamah juga tidak sempat dan juga lelah karena harus mengurus ayah yang tengah sakit.

Senja itu kami sekeluarga berkumpul, minus adikku yang tengah, karena berdomisili di luar kota. Suamiku baru saja datang membawa beberapa makanan pesananku untuk ayah. Sudah lima hari ini aku dan suamiku pulang pergi menjenguk ayahku. Beliau tidak mau dirawat di rumah sakit. "Dirawat di rumah sakit itu nggak enak, mbak" Aku hanya tersenyum. Ladalah, siapa pula yang betah di rumah sakit, Yah, batinku.   Tetangga belakang rumah, Pak Ruhiyat, tengah menjenguk ayahku yang tergolek sakit beberapa hari ini. Dari ruang tengah, kami mendengar ayahku berbincang dengan penuh semangat. Begitu ceria, meski selang infus masih menggelayut di pergelangan tanganya. Kami merasa bersyukur demi menikmati pemandangan itu.  "Ya Allah, sembuhkanlah ayah!" Kupanjatkan doa untuknya dalam hati. Terlintas di benakku siluet kenanganku bersama ayah di masa kecilku. Ayah senang sekali membuatkan cemilan buat aku dan adik tengahku. Adik bungsuku belum terlahir kala itu. Ayah juga yang mengajariku membaca dan menulis al Qur'an hingga lancar. "Kalau mbak bisa menulis surat al Fatihah tanpa menyontek al Qur'an, ayah yakin, mbak pasti akan lancar membaca surat-surat lain dari al Qur'an." Dan aku bisa membuktikan keyakinan ayah.

Adzan maghrib berkumandang. Tetangga yang tengah menjenguk ayah berpamitan. Selepas shalat maghrib, aku menyuapi ayah dengan puding pesanan beliau. Wajah beliau nampak sumringah. "Enak ya, yah", tanyaku. Ayah menggangguk dan tersenyum, tanpa kata-kata. Lima suapan berhasil aku hantarkan ke mulut beliau. Selebihnya beliau tidak mau. Setelah minum, beliau segera berbalik badan dan menarik selimut. Sebelumnya beliau berpesan suapaya dibangunkan bila tiba waktu isya. Kutinggalkan ayah agar istirahat. Aku kembali berkumpul bersama anggota keluarga lainnya, sambil menikmati puding yang tersisa. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Tiba-tiba ayah kejang-kejang. Mamah teriak histeris. Kami segera berhamburan menuju kamar ayah. Kami dangat panik. Mamah memintaku menghubungi Om Arjun, tetangga yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Beruntung Om Arjun tidak sedang bertugas malam. Dia segera datang. Sesampainya di rumah dan melihat kondisi ayah, Om Arjun langsung mnghubungi temannya agar membawakan lagi satu buah labu infus, karenq melihat air infus tersisa sedikit lagi. Alhamdulillah, ayah segera tertangani dan kembali tenang. Beberapa tetangga berdatangan ke rumah, karena mendengar jeritan mamah. Maklum, komplek kami memang terdiri dari rumah semi permanen, sehingga suara teriakan mudah menembus dinding tetangga yang berjarak lima rumah dari kami. Setelah satu jam tidur tenang, tiba-tiba ayah mengigau, memanggil-manggil nama adikku yang tengah yang belum bisa pulang dengan suara yang lemah. Lalu, Ayah menyebut-nyebut adik bungsuku penuh rasa khawatir. Aku tarik lengan adik bungsuku agar duduk di sampingku dan memegangi jemari ayah. Aku berada di samping ayah, membisikkan kalimat thayyibah berulang kali. Ayah melirik padaku. Tatapannya seperti menyampaikan pesan, "jaga adikmu!" Lalu, kukatakan padanya, "Ayah sembuh ya... Ayah pasti sembuh. Ayah kuat. Lihat perut mbak, ada cucu ayah di sana" Ayah tersenyum dan mengangguk. Firasatku mengatakan waktu ayah tak lama lagi. Kubisikkan terus kalimat thayyibah. Ayah berhasil melafalkan kalimat thayyibah beberapa kali dan menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Aku histeris. Mamah apalagi. Adik bungsuku menangis tergugu. Suamiku berusaha menenangkanku. "Allah sayang ayah, bun. Sabar ya" Rengkuhan suamiku sangat menenangkanku. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'afihi wa'fu'anhu wa akrim nuzulahu, wa wassi'madkhalahu. Amin. Selamat jalan ayah. Kau lelaki terbaik dalam hidup kami.




Cijati Asri. 16.10.20/17.44


Senin, 12 Oktober 2020

Sagusablog, Kanal IGI yang Fokus Pada Pelatihan Pembuatan Blog Profesional






Ikatan Guru Indonesia (IGI) sejak hadirnya di tahun 2009 terus menerus mengembangkan kanal-kanal pelatihan untuk para guru. Dengan slogan "sharing and growing together" IGI terus bertumbuh bersama guru-guru hebat penuh semangat. 

Sabtu, 10 Oktober 2020

Keistimewaan Al Qur'an

 Al Qur'an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. pada abad ke 7 M. Sebagai kitab terakhir,

Beriman Kepada Kitab-kitab Allah SWT

 

Sumber:

Kitab Allah adalah kumpulan wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasulnya untuk disampaikan kepada semua manusia sebagai pedoman hidup.

Penilaian Harian I

 Bismillahirrahmirrahim

Silakan siswa-siswi yang shaleh dan shalehah kerjakan Penilaian Harian I ini dengan token: paidelapan

Silabus Semester 1

Silabus merupakan salat satu perangkat pembelajaran yang sangat penting dalam mempersiapkan pembelajaran yang terarah dan terukur.

RPP 1 Lembar

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikenal akrab dengan istilah RPP merupakan salah satu perangkat penting yang harus dibuat sebelum melaksanakan KBM.

Modul PAI Kelas 8 Semester 1


Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi


Pembelajaran di masa pandemi covid 19 tentunya berbeda dengan pembelajaran pada masa-masa sebelum pandemi.

Terdapat beberapa penyesuaian kondisi dengan kondisi yang