Tampilkan postingan dengan label Kisah Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Oktober 2020

Ayah, lelaki terhebat


Senja itu tak seperti biasanya. Violet tipis membentang di ufuk barat. Beradu kekuatan dengan awan kelabu di sisinya. Burung-burung senja berterbangan di langit menambah kuat perasaan aneh yang bermain di benakku. Semilir sang bayu memainkan gerak dedaunan di sekitar rumah setengah permanen. Rumah dengan dinding bilik yang sudah beberapa bulan tak tersentuh sapuan cat berbahan kapur sang pemilik, kini mulai tampak lusuh. Maklum, cat kapur tak setangguh cat lainnya, mudah pudar warnanya. Biasanya setiap enam bulan sekali, sang pemilik rumah yang tak lain adalah ayahku, selalu menyegarkan tampilan rumah dengan mengecatnya. Namun , sejak ayah sakit-sakitan, cat rumah mulai tidak terawat. Mamah juga tidak sempat dan juga lelah karena harus mengurus ayah yang tengah sakit.

Senja itu kami sekeluarga berkumpul, minus adikku yang tengah, karena berdomisili di luar kota. Suamiku baru saja datang membawa beberapa makanan pesananku untuk ayah. Sudah lima hari ini aku dan suamiku pulang pergi menjenguk ayahku. Beliau tidak mau dirawat di rumah sakit. "Dirawat di rumah sakit itu nggak enak, mbak" Aku hanya tersenyum. Ladalah, siapa pula yang betah di rumah sakit, Yah, batinku.   Tetangga belakang rumah, Pak Ruhiyat, tengah menjenguk ayahku yang tergolek sakit beberapa hari ini. Dari ruang tengah, kami mendengar ayahku berbincang dengan penuh semangat. Begitu ceria, meski selang infus masih menggelayut di pergelangan tanganya. Kami merasa bersyukur demi menikmati pemandangan itu.  "Ya Allah, sembuhkanlah ayah!" Kupanjatkan doa untuknya dalam hati. Terlintas di benakku siluet kenanganku bersama ayah di masa kecilku. Ayah senang sekali membuatkan cemilan buat aku dan adik tengahku. Adik bungsuku belum terlahir kala itu. Ayah juga yang mengajariku membaca dan menulis al Qur'an hingga lancar. "Kalau mbak bisa menulis surat al Fatihah tanpa menyontek al Qur'an, ayah yakin, mbak pasti akan lancar membaca surat-surat lain dari al Qur'an." Dan aku bisa membuktikan keyakinan ayah.

Adzan maghrib berkumandang. Tetangga yang tengah menjenguk ayah berpamitan. Selepas shalat maghrib, aku menyuapi ayah dengan puding pesanan beliau. Wajah beliau nampak sumringah. "Enak ya, yah", tanyaku. Ayah menggangguk dan tersenyum, tanpa kata-kata. Lima suapan berhasil aku hantarkan ke mulut beliau. Selebihnya beliau tidak mau. Setelah minum, beliau segera berbalik badan dan menarik selimut. Sebelumnya beliau berpesan suapaya dibangunkan bila tiba waktu isya. Kutinggalkan ayah agar istirahat. Aku kembali berkumpul bersama anggota keluarga lainnya, sambil menikmati puding yang tersisa. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Tiba-tiba ayah kejang-kejang. Mamah teriak histeris. Kami segera berhamburan menuju kamar ayah. Kami dangat panik. Mamah memintaku menghubungi Om Arjun, tetangga yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Beruntung Om Arjun tidak sedang bertugas malam. Dia segera datang. Sesampainya di rumah dan melihat kondisi ayah, Om Arjun langsung mnghubungi temannya agar membawakan lagi satu buah labu infus, karenq melihat air infus tersisa sedikit lagi. Alhamdulillah, ayah segera tertangani dan kembali tenang. Beberapa tetangga berdatangan ke rumah, karena mendengar jeritan mamah. Maklum, komplek kami memang terdiri dari rumah semi permanen, sehingga suara teriakan mudah menembus dinding tetangga yang berjarak lima rumah dari kami. Setelah satu jam tidur tenang, tiba-tiba ayah mengigau, memanggil-manggil nama adikku yang tengah yang belum bisa pulang dengan suara yang lemah. Lalu, Ayah menyebut-nyebut adik bungsuku penuh rasa khawatir. Aku tarik lengan adik bungsuku agar duduk di sampingku dan memegangi jemari ayah. Aku berada di samping ayah, membisikkan kalimat thayyibah berulang kali. Ayah melirik padaku. Tatapannya seperti menyampaikan pesan, "jaga adikmu!" Lalu, kukatakan padanya, "Ayah sembuh ya... Ayah pasti sembuh. Ayah kuat. Lihat perut mbak, ada cucu ayah di sana" Ayah tersenyum dan mengangguk. Firasatku mengatakan waktu ayah tak lama lagi. Kubisikkan terus kalimat thayyibah. Ayah berhasil melafalkan kalimat thayyibah beberapa kali dan menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Aku histeris. Mamah apalagi. Adik bungsuku menangis tergugu. Suamiku berusaha menenangkanku. "Allah sayang ayah, bun. Sabar ya" Rengkuhan suamiku sangat menenangkanku. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'afihi wa'fu'anhu wa akrim nuzulahu, wa wassi'madkhalahu. Amin. Selamat jalan ayah. Kau lelaki terbaik dalam hidup kami.




Cijati Asri. 16.10.20/17.44